UMRAN Pustaka

Kartu Pos Terakhir Derrida

Rp 18.000

Beli Lewat

Judul: Kartu Pos Terakhir Derrida

Penulis: Ibrahim Kalin

Dimensi: A6 (10,5 cm x 14,8 cm)

Ketebalan: 32 hlm

Artikel ini adalah terjemahan dari tulisan Ibrahim Kalin berjudul Derrida’s Last Post yang terbit di majalah Islamica Magazine volume 4 edisi Musim Panas tahun 2004. Kami hadirkan ulang ke para pembaca Indonesia karena ia mengakomodir harapan Umran Press agar semangat literasi yang dijunjung tidak terperosok ke dalam lubang pascamodernisme yang hanya berujung dekonstruksi. Sebab, dewasa ini godaan itu sangat kuat.

Akan tetapi, sebagaimana ungkapan Alparslan Acikgenc di dalam beberapa kesempatan, “postmodernism sangatlah menarik, tetapi ia tidak membawamu kemana-mana (it brings you nowhere).”

Aspek kemenarikan sekaligus ketidakcukupan inilah yang secara apik tersaji di dalam untaian kata demi kata Ibrahim Kalin menilai gagasan-gagasan bernas Derrida. Pada bagian akhir, kami sematkan pula salah satu syair yang beliau gubah sendiri berjudul Metruk. Semoga semakin dapat menambahkan kesan bahwa kita – manusia – tak pernah sendiri, bahkan di masa-masa ketika kesepian itu begitu terasa.

Selamat membaca dan memanusia!

UMRAN PRESS

Referensi Memerdekakan Diri

Judul: Kartu Pos Terakhir Derrida

Penulis: Ibrahim Kalin

Dimensi: A6 (10,5 cm x 14,8 cm)

Ketebalan: 32 hlm

Artikel ini adalah terjemahan dari tulisan Ibrahim Kalin berjudul Derrida’s Last Post yang terbit di majalah Islamica Magazine volume 4 edisi Musim Panas tahun 2004. Kami hadirkan ulang ke para pembaca Indonesia karena ia mengakomodir harapan Umran Press agar semangat literasi yang dijunjung tidak terperosok ke dalam lubang pascamodernisme yang hanya berujung dekonstruksi. Sebab, dewasa ini godaan itu sangat kuat.

Akan tetapi, sebagaimana ungkapan Alparslan Acikgenc di dalam beberapa kesempatan, “postmodernism sangatlah menarik, tetapi ia tidak membawamu kemana-mana (it brings you nowhere).”

Aspek kemenarikan sekaligus ketidakcukupan inilah yang secara apik tersaji di dalam untaian kata demi kata Ibrahim Kalin menilai gagasan-gagasan bernas Derrida. Pada bagian akhir, kami sematkan pula salah satu syair yang beliau gubah sendiri berjudul Metruk. Semoga semakin dapat menambahkan kesan bahwa kita – manusia – tak pernah sendiri, bahkan di masa-masa ketika kesepian itu begitu terasa.

Selamat membaca dan memanusia!

UMRAN PRESS

Referensi Memerdekakan Diri

Buku Terkait

Scroll to Top