UMRAN Pustaka

Mengenal Alparslan Acıkgenç: Filsuf Pembangun Sistem

Di tengah berkembangnya wacana mengenai hubungan antara Islam dan ilmu pengetahuan, nama Prof. Dr. Alparslan Açıkgenç menempati posisi yang istimewa. Berbeda dengan banyak pemikir Muslim kontemporer yang memusatkan perhatian pada kritik terhadap sains modern atau gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan dalam pengertian normatif, Açıkgenç berusaha menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana suatu peradaban melahirkan tradisi ilmu pengetahuan? Bagaimana sebuah pandangan hidup (worldview) berkembang menjadi tradisi intelektual, kemudian melahirkan berbagai disiplin ilmu yang menopang kemajuan suatu masyarakat?

Melalui pertanyaan-pertanyaan inilah, Açıkgenç menjadi salah satu filsuf ilmu Islam paling berpengaruh pada masa kini.

Lahir di Şenkaya, Erzurum, Turki, pada 24 November 1952, Alparslan Açıkgenç menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Ilahiyat Universitas Ankara dan menyelesaikannya pada tahun 1974. Ketertarikannya terhadap filsafat membawanya melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Ia meraih gelar Master of Arts dari University of Wisconsin–Milwaukee pada tahun 1977 sebelum menyelesaikan program doktor dalam bidang filsafat di University of Chicago pada tahun 1983.

Masa studinya di Chicago menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan intelektualnya. Di sana ia memperoleh kesempatan belajar langsung di bawah bimbingan Prof. Fazlur Rahman (1919–1988), seorang pemikir Muslim terkemuka yang dikenal luas melalui upayanya membangun kembali tradisi intelektual Islam melalui pembacaan yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan sejarah pemikiran Islam. Dari Fazlur Rahman, Açıkgenç memperoleh fondasi yang kuat dalam filsafat Islam dan metodologi kajian intelektual. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mengembangkan corak pemikirannya sendiri yang lebih menitikberatkan pada filsafat ilmu, epistemologi, serta dinamika perkembangan tradisi keilmuan dalam sejarah peradaban.

Sepulang dari Amerika Serikat, Açıkgenç memulai karier akademiknya di Middle East Technical University (METU), Ankara. Kepakarannya dalam bidang filsafat ilmu kemudian menarik perhatian Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang mengundangnya bergabung dengan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur. Setelah menjadi profesor tamu pada periode 1991–1993, ia kembali bergabung sebagai profesor tetap pada 1995 hingga 1999.

Lingkungan akademik ISTAC menjadi ruang yang sangat penting bagi pematangan pemikirannya. Di bawah kepemimpinan Syed Muhammad Naquib al-Attas, ISTAC dikenal sebagai salah satu pusat studi Islam paling bergengsi di dunia yang mengembangkan tradisi filsafat, sejarah, dan peradaban Islam secara terpadu. Di sinilah Açıkgenç semakin memperdalam kajiannya mengenai hubungan antara pandangan alam Islam (Islamic worldview), lahirnya tradisi intelektual, dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Jika Syed Muhammad Naquib al-Attas banyak menjelaskan bagaimana worldview Islam membentuk cara manusia memandang realitas, maka Alparslan Açıkgenç melangkah lebih jauh dengan menjelaskan bagaimana pandangan hidup tersebut benar-benar melahirkan tradisi ilmu pengetahuan. Baginya, ilmu bukanlah kumpulan fakta yang berdiri sendiri. Ilmu adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan bahasa, konsep, nilai, metode, institusi pendidikan, hingga komunitas ilmiah yang hidup dalam suatu peradaban.

Pandangan inilah yang kemudian menjadikan Açıkgenç sebagai salah satu tokoh paling penting dalam bidang filsafat ilmu Islam kontemporer.

Kontribusinya dapat ditemukan dalam berbagai karya akademik, di antaranya Islamic Science: Toward a Definition (1996), Scientific Thought and Its Burden (2000), Knowledge and Values in Islamic Thought, Islamic Scientific Tradition in History, serta Being and Existence in Ṣadrā and Heidegger: A Comparative Ontology (2020). Karya-karya tersebut memperlihatkan keluasan penguasaannya atas filsafat Islam klasik, sejarah sains, filsafat Barat modern, hingga epistemologi kontemporer.

Namun, salah satu gagasan Açıkgenç yang paling menarik justru terdapat dalam bukunya The Concept of Philosophy in the Qur’anic Context, yang kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Umran Press dengan judul Konsep Filosofi dalam Konteks Qur’ani. Dalam buku tersebut, ia mengajukan sebuah definisi yang segar mengenai filsafat. Menurut Açıkgenç, filsafat bukanlah sekadar kegiatan berpikir abstrak atau disiplin yang hanya berisi spekulasi teoritis. Filsafat adalah “ilmu membangun sistem” (the science of system building).

Melalui pengertian ini, filsafat dipahami sebagai disiplin yang menyusun berbagai konsep menjadi sebuah bangunan pengetahuan yang utuh dan saling berkaitan. Ia menghubungkan berbagai cabang ilmu, memperjelas hubungan antar-konsep, serta memberikan kerangka yang memungkinkan manusia memahami realitas secara menyeluruh. Dengan demikian, filsafat bukanlah pesaing ilmu-ilmu lain, melainkan disiplin yang memberikan orientasi dan keteraturan bagi seluruh aktivitas intelektual.

Pandangan tersebut sekaligus memperlihatkan mengapa Açıkgenç selalu menempatkan ilmu pengetahuan dalam konteks peradaban. Baginya, tidak ada tradisi ilmiah yang tumbuh di ruang hampa. Di balik setiap kemajuan ilmu selalu terdapat sebuah sistem gagasan yang menopangnya.

Perhatian Açıkgenç terhadap pembentukan tradisi intelektual juga tampak dalam karya lainnya yang diterbitkan oleh Umran Press, yaitu Menyemai Kreativitas dan Inovasi: Rencana Aksi bagi Sistem Pendidikan Kaum Muslimin. Dalam buku tersebut, ia mengingatkan bahwa pembaruan pendidikan Islam tidak cukup dilakukan melalui perubahan kurikulum atau penambahan mata pelajaran. Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan kreativitas, membiasakan berpikir kritis, serta menumbuhkan budaya penelitian dan inovasi. Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar proses pewarisan pengetahuan, melainkan proses melahirkan generasi yang sanggup mengembangkan pengetahuan baru.

Gagasan-gagasan tersebut menjadikan pemikiran Açıkgenç memiliki relevansi yang sangat besar bagi dunia Islam dewasa ini. Ketika banyak negara Muslim berusaha mengejar kemajuan melalui transfer teknologi, ia mengingatkan bahwa kemajuan sejati hanya mungkin lahir apabila masyarakat berhasil membangun kembali tradisi intelektual yang menjadi fondasi bagi berkembangnya ilmu pengetahuan.

Kini Prof. Alparslan Açıkgenç masih aktif mengajar di Üsküdar University dan Ibn Haldun University, Istanbul. Selain itu, ia dipercaya sebagai pemegang Syed Muhammad Naquib al-Attas Chair on Islamic Thought di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), sebuah kursi akademik bergengsi yang didirikan untuk melanjutkan warisan intelektual Syed Muhammad Naquib al-Attas. Penunjukan tersebut merupakan pengakuan internasional atas kontribusinya dalam bidang filsafat ilmu, epistemologi Islam, dan sejarah perkembangan tradisi keilmuan.

Bagi Umran Press, menghadirkan karya-karya Alparslan Açıkgenç bukan sekadar memperkenalkan seorang akademisi kepada pembaca Indonesia. Lebih dari itu, karya-karyanya mengajak kita memahami bahwa kebangkitan suatu peradaban tidak pernah dimulai dari teknologi, melainkan dari cara manusia memandang ilmu pengetahuan itu sendiri. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi informasi tetapi sering kehilangan arah, pemikiran Açıkgenç mengingatkan bahwa ilmu harus kembali ditempatkan sebagai bagian dari sebuah bangunan peradaban yang utuh—dibangun di atas pandangan hidup yang benar, dipelihara oleh tradisi intelektual yang sehat, dan diarahkan untuk mewujudkan kebaikan bagi manusia.

Itulah sebabnya Alparslan Açıkgenç bukan hanya penting untuk dibaca oleh para filsuf atau akademisi. Ia penting bagi siapa pun yang ingin memahami mengapa sebagian masyarakat mampu melahirkan tradisi ilmu pengetahuan yang agung, sementara sebagian lainnya kesulitan mempertahankannya. Melalui pemikirannya, kita diajak melihat bahwa masa depan peradaban tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi oleh kemampuan membangun sistem pemikiran yang memungkinkan pengetahuan itu terus bertumbuh dari generasi ke generasi.

Scroll to Top